This WordPress.com site is the cat’s pajamas

Pendahuluan

Ketika aktifitas fisik dari jaringan tubuh manusia melebih batasnya maka, cedera dapat terjadi. Hal ini berhubungan dengan segala bentuk aktifitas fisik. Memahami bagaimana cedera terjadi, gaya biomekanik yang terlibat, anatomi terkait, proses penyembuhan dan bagaimana rehabilitasi cedera sendi merupakan bagian dari Kedokteran Olahraga.

 

Diagnosis Cedera Olahraga

Riwayat

Kejadian yang meyebabkan cedera dapat memberikan informasi yang bernilai tentang mekanisme cedera dan menunjukkan cedera yang tersamar. Cedera dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

  • Cedera ekstrinsik akut , contoh: hematom, cuts, grazes
  • Cedera intrinsik akut- struktur jaringan teregang melebihi batasnya misalnya : sprain ligamen, dislokasi dan fraktur
  • Cedera kronik , cedera yang dapat dieksaserbasi oleh kejadian baru

Pemeriksaan Fisik

Diagnosis akurat dari cedera sering sulit ditegakkan lansung setelah kejadian, karena pengaruh nyeri dan spasme yang menutup gejala. Prinsip ATLS harus diperhatikan sebelum fokus pada cedera yang sebenarnya. Memperhatikan bagaimana olahraganya dilakukan dapat mebantu mengetahui mekanisme cedera dan bagaimana mencegahnya dikemudian hari.

Peralatan Pelindung dan Orthotic

Jika digunakan secara benar, alat pelindung benar-benar dapat mencegah cedera terjadi. Penggunaan yang salah malah dapat menyebabkan cedera seperti ulserasi dan infeksi.

Prinsip proteksi dapat diperoleh dengan :

  • Penyerapan energi impak
  • Penyebaran impak ke area yang lebih luas
  • Membatasi pergerakan sendi
  • Mencegah infeksi

Rehabilitasi

Merupakan bagian yang esensial. Terdapat 4 tahap :

  • Tahap 1, tatalaksana segera. Protect, Rest, Ice, Compression, elevation (PRICE)
  • Tahap 2, Mengembalikan pergerakan titik yang cedera. Disini penggunaan obat-obat disini memegang peran penting. Misal analgetik jenis NSAID, Kortikosteroid. Namun harus memperhatikan aspek legalitas penggunaan obat terhadap atlet.
  • Tahap 3, restorasi pergerakan.
  • Tahap 4, pergerakan pasif dapat dilakukan, mungkin diawali dengan penggunaan mesin. Baru kemudia pergerakan aktif. Dengan latihan isometrik dan isotonik. Fisioterapis memegang peran penting disini.

Cedera Jaringan Umum

Otot

Adanya perdarahan harus segera dikenali. Perdarahan intramuskular dapat berkembang menjadi intermuskular atau bahkan sindrom kompartemen. Prdarahan intermuskular sepertinya bertanggunga jawab terhadap bruishing superfisial dan kurang mengarah ke sindrom kompartemen.

Prinsip penanganan cedera jaringan lunak sama dan rumus PRICE tetap dapat digunakan.

Pasien membutuhkan rehabilitasi dan edukasi untuk mencegah kejadian berulang. Sringnya hematon tidak sembuhy dan menjadi kista. Keadaan ini mebutuhkan tindakan bedah nemun beresiko infeksi. Deep bruising dapat membentuk osteoid –miositis ossifikan traumatika- yang sulit dan lambat sembuh.

Tendon

Tendon terdiri dari bundel kolagen tipe 1 yang melekat ke tulang melalui serat Sharpey. Dikelilingi oleh selubung jaringan penyambung yang disebut epitendon, yang kemudian menutup bersama paratendon (tendon sheath). Tendon mengalirkan gaya dari otot ke tulang. Ketika tendon rusak, tendon dapat menyembuh sendiri dengan jalan pembentuokan kolagen oleh fibroblas dan makrofag membersihkan jaringan yang rusak. Selama 7-10 hari post injury, harus dilakukan perawatan agar tidak terjadi  ruptur kembali dan kembali normal dalam waktu 6 bulan.

Patologi tendon terbi 3 tipe :

  • Paratendinitis
  • Paratendinitis dengan tendinosis
  • Pure tendinosis

Ligamen

Ligamen mengalirkan gaya antar sendi sekaligus mempertahankan sendi. Ligamen memiliki struktur yang sama dengan tendon namun memiliki konten elastin yang lebih tinggi dan mekanoreseptor untuk proprioseptif.

Cedera ligamen dapat diklasifikasikan sebagi berikut :

Ketika menilai stabilitas sendi , penting untuk menilai kedua sisi dan gambaran kelompoknya.prinsip tatalaksananya sama dengan tendon. Perlu diingat bahwa, imobilisasi yang lama dapat menyebabkan kekakuan dan mengurangi kekuatan repair.

Bursae

Diantara sebagian besar sendi dan jaringan yang melingkupinya terdapat kantong berendotel yang berisi cairan, yang dapat menguragi gaya friksi. Kantung ini dapat mengalami inflamasi, bengkak dan sangat nyeri. Lokasi tersering yaitu : olekranon, tendon psoas, trokanter mayor, pre=patella,infrapatella, retrocalcaneus. Gejala dapat sembuh sendiri tanpa intervensi. Terkadang aspirasi, injeksi steroid atau eksisi dapat pula dilakukan.

Tulang

Tulang merupakan struktur tubuh yang unik dan dinamis yang beradaptasi sepanjang hidup dan menyembuhak dirinya sendiri tergantung dari lokasi dimana stress terjadi (Hukum Wolf). Penyembuhan tulang melalui 3 fase :

  • Inflamasi
  • Repair
  • Remodel

Stress Fraktur

Kegiatan yang berulang-ulang misalnya pada atlet dapat mencetuskan fraktur. Diagnosis diawal sulit, namun dikonfirmasi dengan MRI atau scan tulang dengan Techtenium. Pasien harus istirahat dan mendapat dukungan psikologis.

Pelvis, Panggul, Paha

Cedera pada area ini dapat berakibat serius. Cedera karingan lunak pada area ini mungkin ringan, dan terlewatkan karena terlalu fokus pada fraktur dan dislokasi.

Kontusio Quadriceps (Cork Thigh, Charly Horse)

Cedera pada lokasi ini sering akibat hantaman lansung. Hematom muncul di rectus femoris dengan nyeri, bengkak dan kekakuan. Sindrom kompartemen harus dapat disingkirkan. Pada awalnya, lutut harus diimobilisasi dalam posisi ektensi, lalu kemudian otot secara bertahap dikembalikan pada pergerakan bebas nyeri.

Ruptur Quadriceps

Dapat muncul ketika menendang bola pada olahraga  sepakbola atau rugby. Gambaran klasiknya, pasien tidak dapat meluruskan tungkainya. Ujung tendon yang robek ditahan dalam posisi yang aman sehingga gerakan yang gentle dapat dimulai secepatnya dan kekakuan dapat dicegah.

 

Strain Hamstring

Kejadiannya sering dan biasanya muncul setelah gerakan otot yang cepat. Dapat berespon dengan standard PRICE.

 

Groin Strain

Ini area yang sulit didiagnosis dan ditatalaksana. DD-nya mencakup hernia, fraktur, tumor,masalah ginekologi dan urinary, STD, stress fraktur,osteitis pubis. Tatalaksana konservatif dapat dilakukan dan pembedahan tidak diperlukan pasca 6-12 bulan penatalaksanaan.

Cedera Tulang

  • Avulsi spina iliaca
  • Apophysitis Ischial
  • Osteitis pubis

Lutut dan Cedera Lutut

Cedera Ligamen

Ligamen kolateral media

Ketika gerakan valgus terjadi pada lutut, MCL dapat mengalami kerusakan, biasanya pada insersi femur dan berakibat nyeri dan instabilitas valgus. Grade 1 dan 2 biasanya hanya robekan parsial, dan grade 3 robekan melebihi 1 cm dan ada ligamen lain yang cedera. Tatalaksana meliputi bracing, early weight-bearing dan latiah quadriceps.

Ligamen kolateral lateral

Ketika gerakan varus (medial) terjadi pada lutut, LCL dapat mengalami kerusakan cedera yang terisolasi pada ligamen ini jarang terjadi karena adanya struktur jaringan lain seperti biceps femoris, ilitibial band dan poplitea. Bagaimanapun, kerusakan LCL sering dihubungkan dengan disrupsi ekstensif dari sudut posterolateral,yang jauh lebih signifikan sampai membutuhkan intervensi bedah.

Ligamen Cruciatum

Terdapat dua ligamen cruciatum di lutut yang bersifat intrakapsular dan ekstrasinovial.

Ligamen cruciatum anterior

Cedera ini paling sering terjadi dalam olahraga, terutama pada wanita, pelompat dan pesepakbola.Cedera ACL berupa classic twisting dengan internal rotasi dan tranlasi anterior pada tibia. Pada cedera akut ditemukan nyeri dan hemartrosis yang luas, yang mebuta penialian pada ligamen menjadi sulit dilakukan. Diagnosis dapat dilakukan dengan menggunakan sejumlah tes termasuk Draw test anterior dan Lachman Test.

Rehabilitasi quadriceps dan hamstring dapat mencegah intervensi bedah,namun jika instabilitas lutut tetap berlanjut,maka intervensi bedah diperlukan.

Ligamen Cruciatum Posterior

Jarang terjadi dan sering salah terdiagnosa. Tingkat keparahannnya sering diremehkan. Cedera ini dapat terjadi akibat hantaman lansung ke tibia, misal pada ‘dashboard injury’. Komplek sudut posterolateral sering rusak juga dan trekonstruksi akut diperlukan. Pembedarahnnya rumit dan hasilnya bervariasi.

Cedera Meniscus

Meniskus merupakan struktur semilunar yang terbuat dari fibrokartilago.Berperan sebagai transmit load dan bantalan pada lutut. Ketika rotasi terjadi pada femur dan tibia, misal pada saat mengubah arah/memutar,robekan meniskus dapat terjadi.

Dpat dirasakan nyeri dan efusi ringan selama beberapa hari.Tidak ditemukan darah.Test McMurray dan Apley dapat positif. MRI dapat membantu diagnosis, namun reseksi artroskopi dapat dibutuhkan. Pada remaja, repair meniskus dibutuhkan, terutama apabila robekannya di perifer.

Cedera Patellofemoral   

Gejala tersering berupa nyeri lutut anterior

Chondromalacia patellae

Perlunakan kartilago artikular patella. Etiologi tidak diketahui. Sering pada remaja perempuan. Tatalkasana difokuskan pada penguatan quadriceps dan latiahan taping.

Patellar Instability

Dislokasi dan subluksasi dapat meruapak akibat dari trauma yang signifikan, namun biasanya bersifat kronik, diperburuk dengan otot yang lemah dan trochlea femur yang dangkal.

Tatalaksana yang segera harus dilakukan dan kadang-kadang perlu mengaspirasi hemartrosis untuk menghilangkan nyeri. Immobilisasi dalam posisi ekstensi selama 2 minggu yang dikombinasikan dengan latihan quadriceps isometrik harus dilakukan. Pengembalian ke aktifitas biasa dapat dilakukan setelah quadriceps bulk telah kembali.

Patellar tendinitis

Merupakan inflamasi (apophysitis) dari tendon patella. Ada nyeri, bengkak dan krepitasi. Ditatalaksana secar konservatif.

Hoffa’s Disease

Merupakan perdarahan kedalam kantung lemak anterior yang dapat menyebabkan nyeri lutut anterior.Sering pada remaja dan aktifitas dengan hipermobilitas dan aktifitas yang membutuhkan kelenturan. Ditatalaksana dengan memodifikasi aktifitas dan seringnya reseksi artroskopi.

Sindrom Plica

Plica adalah lipatan membran sinovial pada lutut. Ketika menjadi berparut dan menebal akibat trauma atau aktifitas berlebihan, nyeri dan clicking dapat terjadi. Sering pada sepakbola, Ski dan Rugby. Ditatalaksana dengan reseksi bedah.

Iliotibial band syndrome

Sering pada pelari. Steretching, istirajat dan jika perlu, injeksi steroid dapat mengobatinya.

Cedera Ankle

Akle Sprain

Cedera jaringan lunak pada ankle joint sering terjadi dan biasanya melibatkan ligamen talofibular dan ligamen kalkaneo.  Gaya Eversi/abduksi menyebabkan trauma pada komplek ligamen media, dimana gaya inversi/adduksi memicu cedera di komplek lateral.

Cedera tipe 1 merupalam cidera ligamen minor, Tipe 2 sprain muncul dengan cedera ligamen dan tipe 3 sprain melibatkan disrupsi komplit dari ligamen atau multipel ligamen.

Pemeriksaan terbaik adalah dengan MRI (90% akurat). Tujuan tatalaksana adalah untuk membuat ankle stabil dengan aligntment anatomi dan fungsi yang baik. Tipe 1 dan 2 memerlukan akle brace atau strapping dengan early mobilisation dan latihan RoM.Perlu ditangani oleh fisioterapis. Penanganan sprain tipe 3 sangat kontroversial.

Cedera tendon peroneal

Jarang terjadi, sering misdiagnosis, namun dapat serius karena merupakan tendon ini merupakan stabiliser hindfoot pada inversi. Sering pada psien dengan cavus feet atau kaki dengan arkus medial longitudianl yang tinggi.  Jika selubungnya rusak, tendon ini  dapat subluksasi ke anterior dan memberikan sensasi snapping. X-ray,CT Scan atau MRI dapat membantu diagnosis. Sprain ringan dapat diterapi dengan bracing dan fisioterapi, sedangakan yang komplit harus dilakukan intervensi bedah.

Cedera Tibialis Posterior

Kelainan pada tibialis posterior dapat menyebabkan deformitas flat foot unilateral. Sering pada wanita dan atlet usia pertengahan dan sering berupa cedera kronik. Ditandai dengan hindfoot valgus dengan pronasi dan abduksi pada fore dan midfoot. Sering tidak terlihat dari foto lateral.Nyeri disekitar ankle medial dan hindfoot sering dirasakan, dipicu oleh latihan. Jika tidak diobati, maka kaki dapat berada dalam posisi pronasi yang berlansung kronik dan nyeri beralih ke lateral. Diterpai dengan orthotic shoe implatatau splinting, kombinasi dengan NSAID.

Cedera Tibialis Anterior

Sering pada pelari jarak jauh.Ada nyeri, bengkak dan krepitus pada tendon. Dapat sembuh dengan istirahat yang lama dan rehabilitasi.

Cedera Tendon Achilles

Tendinitis

Ada nyeri dan bengkak pada tendon Achilles. Jika inflamasinya menjadi kronik dan pada tendon muncul robekan halus yang multipel dan kehilangan struktur, ini disebut tendonosis achilles. Tendinitis Achilles disebabkan oleh peningkatan aktifitas secara tiba-tiba yang melibatkan tendon Achilles, misalnya platar fleksi. Sering pada atlet dan orang-orang yang biasa berolahraga. USG dan MRI dapat membantu diagnosis. Diatatalaksana dengan immobilisasi dalam gips atau sepatu untuk mengistirahatkan sendi, dikombinasikan dengan NSAID dan PRICE.

Ruptur

Rasa tusukan di belakang ankle dan ketidakmampuan untuk dorsofleksi kakai merupakan ciri dari ruptur tendin achilles. Serinag pada pemain Squash atau Badminton yang berusia pertengahan. Dapat digunakan Simmond Test. Dapat ditatalaksana konservatif dengan cast plantarfleksi atau sepatu selama 6-9 minggu.Robekan mid-substance dapat diterapi secara konservatif atau dilakukan pembedahan. Re-ruptur pada tahun pertama setelah cedera dapat terjadi pada kedua metode : resiko 6-10% setelah konservatif vs 3-4% pada pilihan operasi. Untuk jangka panjang angka re-ruptur resikonya sama, namun resiko kerusakan saraf dan nekrosis kulit terjadi pada repair operatif.

Cedera Kaki

Plantar Fasciitis

Sering pada pasien usia pertengaha dengan nyeri tumit unilateral. Nyeri lebih berat pada pagi hari dan saat bangkit dari tempat tidur atau kursi. Nyeri menjadi nyeri tumpul ketika keparahan bertambah.

Diterapi dengan Shoe Insert/heel cups, NSAID dan injeksi steroid lokal. Tingkat keberhasilan bervariasi. Operasi dapat dilakukan dengan rilis origo plantar fasia.

Retrocalcaneal Bursitis

Insersi kalkaneus dari tendon achilles memiliki bursa superfisial yang dapat mengalami iritasi , berhubungan dengan Haglund’s deformity dapat juga muncul.

Nervus

Sural Nerve Entrapment

Sering pada pelari dan muncul bersamaan dengan nyeri disepanjang bagian lateral kaki. Sering dihubungkan dengan ankle sprain kronik akibat munculnya jarinagn parut. Tatalaksana inisial dengan pijatan dapat membantu.

Neuroma Morton

Terjadi akibat posttraumatic foot, terutama fraktur metatarsal. Gejala berupa nyeri disekitar metatarsal yang dipicu saat berjalan dan dapat hilang dengan pijatan.Ultrasound dan MRI digunakan untuk konfirmasi diagnosis.Modifikasi gaya hidup dan sepatu dengan atau tanpa injeksi steroid memiliki keberhasilan yang terbatas. Reseksi surgikal merupakan pilihan utama.

Tulang

 Turf Toe (Plantar capsular ligament spray)

Diagnosis dengan gambaran klinis dan radiografi untuk menyinhkirkan fraktur. Tatalaksana dengan menghindari aktifitas selam 3-4 minggu dengan elevasi dan es. Orthotic shoe dapat digunakan untuk mencegah rekurensi.

Metatarsalgia

Merupakan nyeri pada ball of the foot disekitar metatarsal.teruatam metatarsal 2,3 dan 4. Disebabkan oleh tekanan yang berlebihan.pada kepala metatarsal.

Freiberg Disease

Nekrosis avaskular pada metatarsal kedua.Nyeri menyebar ke arah depan. Tatalaksana dengan modifikasi aktifitas dengan atau tanpa orthotic insole atau metatarsal bar.

Sever’s Disease (calcaneal apophysitis)

Nyeri pada tumit pada remaja dan berhubungan dengan growth spurt. Hindfoot memiliki fleksibilitas yang lemah dan biomekanik yang telah berubah. Sering pada pesepakbola dan senam yang rutin berlari dan melompat. Pengobatan dengan modifikasi aktifitas dan latihgan streching.

Stress Fracture

Berhubungan dengan olahraga yang selalu berlari dan melompat di area yang keras. Sering pada daerah metatarsal (March Fracture), tulang sesamoid pada jempol kaki dan navicula pada penari dan penunggang kuda.

Sering pada wanita dan sering dihubungka dengan ‘ female athlete triad’ yaitu bulimia, amenore dan osteoprosis.

Ditatalaksana dengan cara beristirahat dari aktifitas penyebab fraktur selama 6-8 minggu.

 

 

CEDERA BAHU DAN ANGGOTA TUBUH BAGIAN ATAS

Bahu terdiri atas tiga tulang sendi, yang kesemuanya dapat terkena cedera. Tulang sendi glenohumeral sifatnya tidak stabil dan, oleh karena itu, rentan terhadap cedera, terutama saat melakukan olahraga yang banyak melibatkan aktivitas melempar

Instabilitas

Instabilitas bahu sangatlah umum, mulai dari dislokasi hingga subluksasi. Cedera-cedera ini bisa terjadi meski dengan hanya tekanan eksternal minimum. Pada laki-laki berusia dibawah 25 tahun yang sudah pernah terkena, kemungkinan dislokasi terjadi lagi adalah sekitar 60%, 10% kemungkinan instabilitas contralateral dan 20% kemungkinan berkembangnya arthritis.

Dislokasi harus direduksi sesegera mungkin dan, setelah immobilisasi singkat, dilakukan rehabilitasi intensif untuk mengembalikan tenaga dan kordinasi pada bahu.

 

Tendinitis dan sobekan rotator cuff

Kerusakan pada rotator cuff biasanya terjadi pada atlet bowling ataupun atlet-atlet yang sudah tua. Cedera ini bisa terjadi karena kelebihan beban dan tubrukan akibat anatomi acromial abnormal. Cedera ini ditunjukkan oleh rasa sakit pada bahu anterior yang menjalar hingga ke lengan, terasa lebih sakit pada saat malam dan kesulitan mengacungkan lengan di atas kepala. Tes Speed dan Yergason biasanya positif. Perawatannya antara lain modifikasi aktifitas dan injeksi cortisone. Debridement arthroscopic juga dapat dipertimbangkan. Sobekan rotator cuff lebih sering terjadi pada atlet usia tua dan jarang dapat diatasi melalui operasi. Pada atlet usia muda, sobekan baru dapat terjadi jika terjadi tekanan yang signifikan, dengan peluang sukses reparasi lebih besar.

 

Dislokasi tulang sendi acromioclavicular

Cedera ini umm terjadi pada atlet balap sepeda, pegulat serta orang yang pernah bahunya tertimpa beban berat. Selain buttonholes clavicle melalui otot, perawatan biasanya lebih bersifat konservatif.

 

 

 

 

Dislokasi sternoclavicular

Cedera ini juga terjadi bahu yang kejatuhan beban berat, yang berakibat pada dilokasi anterior tulang sendi. Cedera ini dapat dirawat secara konservatif. Reduksi harus segera dilakukan jika tulang yang terdislokasi menganggu thoracic.

 

Otot

Pectoralis major pecah, bisep yang panjang dan subscapularis subscapularis cedera-cedera yang umum terjadi di sekitar bahu. Cedera-cera ini umumnya terjadi pada pegulat dan atlet angkat erat yang biasanya menggunakan obat-obatan penguat performa. Pecah bisep dapat dirawat secara konservatif, akan tetapi dua cedera yang lain membutuhkan operasi.

 

Siku

Cedera-cedera pada siku lebih jarang terjadi dibandingkan cedera pada tulang sendi lain dan biasanya disebabkan oleh penggunaan berlebihan. Cedera ini umum terjadi dalam olahraga golf, tennis, baseball dan akivitas melempar.

Epicondylitis lateral dan medial

 

Epicondylitis lateral

Ini adalah tedinitis dari brevis radialis carpi extensor dan biasanya terjadi pada atlet-atlet usia tua. Rasa sakit terlokalisasi pada insersi otot extensor di bagian lateral dari siku dan akan diperparah dengan aktivitas bersalaman atau membuka pintu. Perawatan NSAID, akupuntur dan injeksi telah terbukti efektif.

Epicondylitis medial

Ini adalah inflamasi dari tendon flexor pada bagian medial dari siku dan disebabkan oleh aktivitas melempar berulang-ulang. Rasa sakit menjalar dari epicondyle medial ke bawah ke lengan dan diperburuk oleh pronasi. Dapat ada kaitannya dengan gejala-gejala saraf ulnar. Perawatan yang dibutuhkan sama dengan epicondylitis lateral.

 

 

Dissecans osteochondritis pada siku

Meskipun kondisi ini dapat terjadi pada semua tulang sendi, pesenam dan atlet kriket relatif lebih beresiko terkena. Cedera ini melibatkan necrosis capitellum tiba-tiba, yang berakibat pada fragmen-fargmen yang dapat mengakibatkan crepitus, rasa sakit dan terkuncinya tulang sendi. Disarankan untuk dilakukan pengangkatan arthoscopic.

 

TANGAN DAN PERGELANGAN TANGAN

Cedera-cera pada tangan dan pergelangan tangan sangat umum terjadi dalam setiap jenis olahraga. Cedera-cedera ini dapat menghentikan karir dan memiliki dampak buruk pada kehidupan sehari-hari.

Anatomi tangan sangatlah kompleks, dengan tendon, otot, saraf dan lapisan synovial kesemuanya bekerja bersama untuk memungkinkan terjadinya pergerakan yang baik dan kompleks. Kerusakan kecil saja pada struktur-struktur ini dapat mempengaruhi seluruh fungsi tangan.

Penilaian yang hati-hati terhadap tangan yang mengalami cedera sangat penting dilakukan. Setiap saraf dan tendon harus dieksaminasi.

 

Kompresi saraf

Saraf medianus

Latihan angkat berat yang berulang-ulang dapat menyebabkan kompresi saraf median pada sejumlah area: ligamen Struthers, pronator teres, pembuluh carpal dan superficialis digitorium flexor. Gejala-gejala parasthesiae dan sinyal Tinel positif bersifat diagnostik. Perawatan dengan modifikasi aktifitas dapat mengobati gejala walaupun, kadang-kadang, harus dilakukan pembedahan.

 

Saraf ulnar

Karena saraf ulnar melintang pada kanal Guyon maka ia dapat dikompres. Ini biasanya terjadi pada atlet balap sepeda yang yang menekankan pergelangan tangannya pada batang kendali. Modifikasi aktifitas dan pembelatan dapat mengobati gejala-gejala.

 

 

Saraf radial

Kompresi saraf radial sulit dibedakan dengan epicondylitis lateral. Jika saraf radial dikompres, brevis radialis carpi extensor yang menekan akan mereproduksi gejala. Modifikasi aktifitas dan pembelatan pada lengan bawah dapat mengatasi.

 

Carpus

Patahan dan dislokasi carpus didiskusikan pada Bab 27. Tulang scaphoid pesenam dan atlet angkat berat biasanya lebih rentan karena dorsiflex pergelangan tangan dengan beban berat. Ini mengakibatkan scaphoid bertubrukan dengan radius dan mengakibatkan rasa sakit pada pergelangan tangan. Osteophyte mengakibatkan tubrukan; ini biasanya mengharuskan dilakukan pemotongan.

 

Jari

Dislokasi pada tulang sendi serta cedera pada tendon dan ligamen collateral adalah cedera yang sangat umum terjadi. Sobekan parsial dapat diobati dengan belatan, sedangkan pecahan menyeluruh membutuhkan intervensi operasi. Jari baseball adalah pecahan dari insersi distal tendon extensor dan dapat dirawat secara konservatif. Pecahan yang lebih halus pada tulang sendi interphalangeal proximal biasanya luput dari pengataman, berakibat pada kelainan bentuk boutonniere yang biasanya mengharuskan dilakukannya operasi. Tendon flexor dapat juga pecah pada tulang sendi interphalangeal distal. Ini biasanya terjadi pada olahraga rugby dan gulat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: